Langsung ke konten utama

Fiqih Pancasila dan Kedaulatan Ekologi

 






Pancasila adalah dasar negara dan panduan beramal dalam bernegara, Pancasila dari sila pertama hingga sila kelima merupakan manifestasi Islam, dalam Pancasila mengandung Maqoshidus Syari’ah yang bertujuan untuk menjaga agama (din), jiwa (nafs), akal (aql), keturunan (nasl), dan harta (mal), sehingga dalam hal ini penulis menyebutnya sebagai Fiqih Pancasila.

            Pada konteks masa ini, ketika kita menyaksikan pemimpin negara, menteri-menterinya, pejabat-pejabatnya, bertingkah laku arogan dan menyatakan, “ Perluas sawit, perbanyak tambang, pohon-pohon yang terbawa banjir adalah pohon lapuk, bencana ini ngak besar..”, maka sejatinya mereka telah mengkhianati Pancasila!, dan lebih spesifiknya mereka telah melanggar undang-undang kemanusiaan dan keadilan yang termaktub dalam Fiqih Pancasila.

            Pancasila sebagai paradigma hukum sudah semestinya terus dihidupkan-dihadirkan-diaktivasi dalam kehidupan bernegara ini, khususnya oleh para pelayan rakyat (mulai dari pimpinan negara serta lingkarannya) . Pancasila harus disusun sekaligus diterapkan menjadi manhaj atau metode dalam berpikir, bertindak, dan berkebijakan, maka adanya penyebutan Fiqih Pancasila bisa diposisikan sebagai usaha serta harapan untuk membakukan Pancasila sebagai bagian pararel dari sumber penetapan hukum di Indonesia, termasuk dalam hal kedaulatan ekologi sangat punya relasi dengan Pancasila, jika kita mengacu pada sila kedua : Kemanusiaan yang  Adil dan Beradab, kita bisa pahami bersama bahwa menjaga kelestarian alam – memakmurkan ekologi- melindungi masyarakat – menjaga kemuliaan rakyat merupakan hakikat dari sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.  Kedaulatan Ekologi harus diperjuangkan bersama oleh semua elemen yang ada, dan para pelayan rakyat sudah semestinya mengadakan evaluasi dalam cara berpikir dan cara pandangnya selama ini, dan kembali pada Pancasila adalah jalan yang utama.

 

-catatan kiri, 14 Desember 2025

Dusun Belung, Plosoklaten, Kediri


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dunia Para Wali dalam Manuskrip Jawa

              Pada suatu hari   seekor burung elang terbang di atas majelis Syekh Abdul Qodir Al Jailani. Burung itu berkicau dengan kuatnya sehingga mengganggu hadirin. Syekh Abdul Qodir Al Jailani pun berkata, “ Wahai angin, ambil kepala burung itu..”. Maka burung itu pun terjatuh ke tanah, kepalanya terpisah dari tubuhnya. Setelah peristiwa itu Syekh Abdul Qodir Al Jailani turun dari atas kursinya, lantas mengambil bangkai burung tadi dan mengusap-ngusapnya dengan mengucapkan “bismillahir rahmanir rahim…” . Maka seketika itu burung tersebut hidup kembali.             Berangkat dari untaian kisah diatas maka kita bisa sama-sama mengetahui tentang adanya kejadian-kejadian yang bernuasa spiritual   hingga akar intelektual kita seringkali tak mampu menguliti apa yang sebenarnya terjadi, dan kisah diatas sangatlah berkaitan erat dengan dunia para wal...

Kandangan : Nama dan Asal-Usulnya

              Kandangan merupakan sebuah kelurahan atau desa yang berada di Kecamatan Benowo, Surabaya. Kandangan   secara   wilayah   berbatasan dengan Klakahrejo (barat), Banjarsugihan (timur),   Tambak Langon (utara),   Bringin (selatan). Kandangan secara administrasi daerah mempunyai 7 Ketua RW, 41 Ketua RT, lalu lahan yang ada di Kandangan selain digunakan untuk kawasan pemukiman warga juga dipakai untuk sekolahan, pasar, perkantoran, dan sebagiannya lagi berwujud tambak serta persawahan. Kandangan sebagai bagian dari wilayah Kota Surabaya mempunyai jejak-jejak sejarah yang patut untuk kita ketahui, dan   kita berharap masyarakat Kandangan tetap mampu menjaga identitasnya dengan terus merawat cerita-cerita leluhur yang disampaikan dari generasi ke generasi, serta melestarikan peninggalan-peninggalan arkeologi/ sejarah yang selama ini ada di tengah masyarakat. Nama Kandangan Berdasarkan riwayat sejarah yang di...
Nabi Nuh dalam Al Quran dan Taurat                 Di atas bumi , dengan cakrawala langit dan daratannya yang membentang luas. Nabi Adam As berdiri tegar sebagai nabi pertama sekaligus bapak seluruh manusia , Nabi Adam As mempunyai tekad yang besar untuk terus mendakwahkan Islam kepada keturunannya, dijelaskan dalam hadits dari Abu Dzar Ra, bahwa dirinya bertanya kepada   Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam , “ Berapa jarak waktu antara Adam dan Nuh ?, Nabi menjawab, Sepuluh generasi..” . Ibnu Abbas Ra juga ikut menyatakan bahwa, “Antara Adam dan Nuh terpaut sepuluh generasi. Mereka semua berpegang teguh pada Islam..”. Nabi-nabi yang datang selalu mewasiatkan kepada para penerusnya untuk selalu beriman dan bertauhid kepada Allah ‘Azza wa Jalla.                 Seiring waktu berjalan, seiring zaman berganti ternyata umat manu...